www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Penerus Nabi Adam di Banten Selatan

Posted by On 23.05

Penerus Nabi Adam di Banten Selatan

Fokus mata Narman berpindah di antara dua layar. Jemari tangannya bergerak silih berganti. Menekan layar ponsel di tangan kanan. Memencet peranti token perbankan di tangan kiri.

"Mumpung di luar, urus dagangan," kata Narman, kala kami duduk mengopi di Terminal Ciboleger, Leuwidamar, Lebak, Banten. Itu merupakan "Pintu Gerbang Baduy"--perbatasan ulayat adat Baduy. Berjarak kira-kira 150 kilometer dari Jakarta.

Pagi itu, 28 Maret 2018, Narman menghampiri kami di Terminal Ciboleger. Dua hari sebelumnya, lewat WhatsApp, ia berjanji menemani kami ke Tanah Baduy.

Lelaki 29 tahun itu berasal dari Kampung Marengo, Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Di kampungnya, Narman dikenal sebagai pengepul tenun Baduy. Ia jual tenun lewat Instagram, blog, dan mal daring (online).

Meski gelagatnya mirip orang kota, pemuda Baduy Luar itu tetap menampakkan ciri adat. Ia pakai baju hitam (jama ng kampret), plus ikat biru motif batik yang melingkari kepala.

"Saya berusaha taat adat. Alat-alat (elektronik) ini juga hanya dipakai di luar," ujarnya.

Lepas mengopi, Narman memandu saya dan fotografer, Wisnu Agung Prasetyo, menuju Desa Kanekes. Ulayat adat Baduy itu punya luas 5.136 hektare, masuk teritorial Gunung Kendeng di Banten Selatan.

Kami menyusuri jalan setapak, naik turun perbukitan bertanah vulkanik. Di beberapa tanjakan, jalan setapak kelihatan rapi dengan bebatuan yang disusun serupa tangga.

Di sekeliling, ada hutan tempat bertumbuh aneka pohon, macam kiara, durian, enau, kelapa, dan teurup. Saat melintasi perkampungan, terlihat barisan rumah panggung bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia.

Sesekali, kami berpapasan anak-anak yang memikul durian. Adakala, lelaki dan perempuan dewasa melintas membawa kayu bakar atau hasil bumi.

Urang Baduy atau Urang Kanekes dikenal dengan kesahajaan, lagi jauh dari mode rnitas.

Mereka setia jalan kaki, sebab kendaraan dilarang di Kanekes. Listrik pun tabu, penerangan hanya bersumber dari lilin atau lampu minyak. Bahkan, pendidikan formal turut ditabukan.

Desa Kanekes terdiri dari 65 kampung, terbagi pula dalam dua teritorial adat: Baduy Dalam (tangtu) dan Baduy Luar (panamping). Ada tiga kampung suci di Baduy Dalam, yakni Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Kampung tersisa masuk Baduy Luar.

Dua wilayah adat tersebut beda aturan. Baduy Dalam lebih ketat, sebagai misal, tak membolehkan penggunaan sabun, sampo, serta pasta gigi; dan pantang naik kendaraan. Baduy Luar tidak menabukan hal pertama, dan boleh naik kendaraan di luar Kanekes.

Perbedaan kasatmata ada pada pakaian. Baduy Dalam menggunakan jamang kurung warna putih plus ikat kepala putih. Baduy Luar pakai jamang kampret kelir hitam atau biru tua serta ikat kepala biru.

"Panamping berarti 'pendamping' atau 'penyaring'. Baduy Luar jadi bente ng yang melindungi Baduy Dalam, mengawal kelestarian adat," kata Ayah Mursid, seorang figur kunci di Kanekes.

***

Desa Kanekes, Tanah Adat Baduy, terdiri dari 65 kampung dengan luas sekitar lima ribu hektare. Gambar udara menunjukkan satu sudut Desa Kanekes, Jumat, 2 Maret 2018.
Desa Kanekes, Tanah Adat Baduy, terdiri dari 65 kampung dengan luas sekitar lima ribu hektare. Gambar udara menunjukkan satu sudut Desa Kanekes, Jumat, 2 Maret 2018.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id
Suasana Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Desa Kanekes menjadi tempat berdiam bagi 11 ribu orang Baduy.
Suasana Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten. Desa Kanekes menjadi tempat berdiam bagi 11 ribu orang Baduy.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Pagi pertama Maret 2018, masuk masa kawalu, bulan suci Baduy. Suasana perkampungan lebih sepi dari hari biasa. Warga berpuasa, lagi lebih rajin mengirim jampe (doa).

Selama kawalu, orang Baduy pantang makan telur dan daging ayam. Alat musik tradisional, seperti angklung buhun, tak boleh dimainkan. Pun, pengunjung hanya boleh masuk Baduy Luar. Sedangkan Baduy Dalam tertutup sementara waktu.

Alhasil, kami mesti berbincang dengan Ayah Mursid, tokoh adat Baduy Dalam, di Kampung Marengo, area Baduy Luar.

Pria asal Kampung Cibeo itu sering disebut "juru bicara Baduy". Ia pula yang dapat mandat adat menghadiri beberapa momen peringatan kemerdekaan di Istana Merdeka.

Sambil bersila, tokoh berusia 47 itu menerangkan adat dan kepercayaan Baduy. Ia bilang, dalam kacamata orang Baduy, Kanekes adalah pusat semesta. Di sana, manusia pertama sekaligus moyang Baduy, Nabi Adam terlahir.

Orang Baduy percaya, sepanjang hidup, mereka bertugas menjalankan amanah leluhur.

"Itu atas amanah leluhur kami, atas izin gusti Numahakawasa (Tuhan yang Maha Kuasa), dititipkan ke Nabi Adam, dijalankan oleh lembaga adat," ucap Ayah Mursid. "Di sini, urusan adat, kepercayaan, dan pemerintahan, melebur di bawah lembaga adat."

Lembaga adat Baduy dipimpin tiga puun dari tiga kampung keramat di Baduy Dalam. Puun berwenang mengeluarkan fatwa serta memimpin ritual.

Ada pula lembaga tangtu tilu jaro tujuh, yang menegakkan amanah adat, terdiri dari: tiga jaro tangtu dari Baduy Dalam; tujuh jaro dangka dari Baduy Luar.

Adapun adat dan kepercayaan Baduy bersandar pada tradisi lisan atau pikukuh lintas generasi. Pikukuh itu mengajarkan relasi manusia dengan pencipta, alam, serta sesama insan.

"Loj or teu meunang dipotong. Pondok teu meunang disambung, (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung)," demikian satu kutipan pikukuh.

Contoh lain, "Gugung teu meunang dilebur. Lebak teu meunang diruksak (gunung tak boleh dihancur, lembah tak boleh dirusak)."

Ayah Mursid (kiri) berpose bersama rekannya Ayah Sani (kanan) di Sungai Ciujung, Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten, Kamis, 1 Maret 2018. Ayah Mursid sering menjadi "juru bicara" orang Baduy.
Ayah Mursid (kiri) berpose bersama rekannya Ayah Sani (kanan) di Sungai Ciujung, Desa Kanekes, Leuwidamar, Lebak, Banten, Kamis, 1 Maret 2018. Ayah Mursid sering menjadi "juru bicara" orang Baduy.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Selama ini, keperca yaan Baduy sering disebut Sunda Wiwitan--merujuk kepercayaan tradisional Sunda.

Belakangan, orang Baduy punya penamaan berbeda. Mereka pilih istilah Selam Sunda Wiwitan atau Slam Sunda Wiwitan--kadang ditulis: Selam Wiwitan atau Slam Wiwitan.

Ihwal perbedaan itu, Ayah Mursid mengatakan, "Kami menghormati dulur-dulur kami, Sunda Wiwitan. Tapi kami berbeda."

Konon, ritual nyelamkeun jadi proses inti yang membedakan kepercayaan Baduy dengan Sunda Wiwitan. Itu berupa ritual "penyucian" yang mesti dilewati setiap orang Baduy.

Lepas nyelamkeun, seseorang dianggap sah (baca: wajib) menjalankan adat. "Ada beberapa tahapan nyelamkeun, misal, laki-laki melewati proses disunat, dan perempuan melewati peperan," ujar Ayah Mursid.

Beda lain adalah sadat (syahadat) dalam pelbagai ritual. Beberapa tokoh yang kami temui enggan mengungkapkan isi sadat, termasuk Ayah Mursid, dan Jaro Saija (jaro pamarentah atau kepala desa).

"Da lam adat, kami tidak boleh menjelaskan," kata Ayah Mursid. "Tapi, secara garis besar, sadat mengakui Gusti Maha Suci atau Numahakawasa, dan nabi."

Orang Baduy juga mengenal ibadah "umum" dan "khusus". "Kalau khusus, ada waktunya--ditentukan puun--seperti kawalu. Kalau umum dilakukan sehari-sehari, sesuai amanah adat," ujar Ayah Mursid.

Ibadah kawalu berlangsung tiga bulan merujuk sistem penanggalan Baduy: kawalu tembey (kawalu awal, bulan Kasa), kawalu tengah (bulan Karo), dan kawalu tutug (kawalu akhir, bulan Katiga).

Usai kawalu, ada ritual ngalaksa, sebagai ungkapan syukur lepas tiga bulan berpuasa. Satu ritual lain disebut seba, berupa prosesi kunjungan ke pemerintah daerah atau pusat--mempersembahkan hasil panen.

Sehari-hari, orang Baduy mengenal beberapa larangan: tidak sewenang-wenang membinasakan makhluk hidup, tidak ingkar, tidak menipu, tidak bersenandung nan melenakan, tidak mengonsumsi minuman memabukk an, dan seterusnya.

Mereka juga mengimani surga dan neraka sebagai ganjaran atas laku manusia. "Neraka lahir, dihukum semasa hidup. Neraka batin di akhirat," ujar Ayah Mursid.

***

Ngahuma (berladang) jadi salah satu sentra ritual bagi orang Baduy. Hasil ladang ikut dibawa dalam pelbagai ritual adat.
Ngahuma (berladang) jadi salah satu sentra ritual bagi orang Baduy. Hasil ladang ikut dibawa dalam pelbagai ritual adat.
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Jumat pagi, 2 Maret 2018, Sarpin berbincang dengan tiga wartawan di teras rumah panggungnya, Kampung Balimbing, Desa Kanekes. Hari sebelumnya, di tempat yang sama, ia menanggapi beberapa mahasiswa yang sedang studi wisata.

Rumah Sarpin memang sering disinggahi tetamu. Ia ber status Kepala Urusan Pemerintahan Desa Kanekes. Jabatan--plus kecakapan retorika--itu membuatnya kerap tampil sebagai narasumber bagi pengunjung.

Saat tiba giliran kami mengobrol, Sarpin mengungkapkan alasan lain di balik penamaan Selam Sunda Wiwitan. Konon, penamaan itu baru muncul kira-kira lima tahun terakhir.

Sebelumnya, orang Baduy tak keberatan dengan istilah Sunda Wiwitan. Penolakan baru terdengar, tatkala ada penggalangan penganut Sunda Wiwitan di wilayah Cireundeu, Cimahi dan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

"Lembaga adat berpandangan, Sunda Wiwitan di sana adalah turunan Kerajaan Pajajaran (1030-1579) dan Kerajaan Galuh (669-1482). Sedangkan di sini, menolak bila disebut turunan keduanya," kata Sarpin.

Figur berusia 47 itu juga berbagi informasi perihal administrasi kependudukan Desa Kanekes, terutama situasi terkini setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membolehkan pencantuman "Kepercayaan" di kartu tanda penduduk.

Sarpin bilang , dirinya "menyambut baik" putusan MK. Di sisi lain, ia mesti tunduk pada aturan adat Baduy. "Lembaga adat menginginkan 'Selam Sunda Wiwitan' dicantumkan dalam KTP, bukan 'Kepercayaan''," kata dia.

Kala kami berbincang dengan Ayah Mursid, pernyataan senada terdengar, "Seharusnya, (keputusan) MK lebih spesifik kepada satu suku. Kami ingin ditulis 'Selam Sunda Wiwitan'."

Keinginan tersebut berimbas pada administrasi kependudukan. Warga Kanekes memilih mengosongkan kolom agama di KTP.

Per Januari 2018, penduduk Kanekes mencapai 12.930 jiwa. Dari angka itu, tercatat 7.909 jiwa wajib KTP. Adapun realisasi kepemilikan KTP mencapai 4.277 jiwa. Jumlah terakhir itulah yang kolom agamanya bertanda setrip.

Kami pun bertanya pada beberapa orang Baduy tentang fungsi KTP bagi mereka. Jawaban paling sering terdengar, "Agar aman saat razia."

Satu jawaban lain, "Untuk transaksi beli tanah.& quot; Lontaran itu kami dengar pula dari Ayah Mursid, Sarpin, dan Narman.

Tahun-tahun belakangan, muncul tren orang Baduy beli lahan perladangan di luar Kanekes.

Pasalnya, ulayat Baduy seluas lima ribu hektare tak sebanding dengan populasi penduduk. Lagi pula, area adat itu mencakup perkampungan dan "hutan larangan" (sekitar tiga ribu hektare) yang tak boleh digarap atau dimasuki tanpa kepentingan (ritual).

Padahal, ngahuma (berladang) merupakan satu sentra adat Baduy. Buah ngahuma jadi bawaan dalam ritual, macam kawalu, ngalaksa, dan seba.

Proses berladang juga sarat ritual, sejak menanam sampai panen. Pun, kemampuan menjalankannya jadi penanda kedewasaan seseorang di Baduy.

"Pada masa orang tua kami, sekeluarga punya 1-3 hektare--bahkan lebih--di Kanekes. Lalu diwariskan ke anak, habis," keluh Narman. "Sedangkan, kami mesti ngahuma untuk ritual."

Muammar Fikrie Muammar Fikrie Penulis dan editor Beritagar.id sejak 2015.

BACA JUGA

  • Bertahan mengagungkan Anahatana dan Upu Ama Bertahan mengagungkan Anahatana dan Upu Ama
  • Membaca isyarat langit lewat hati binatang Membaca isyarat langit lewat hati binatang
  • Manusia suci dari alam Sangiang Manusia suci dari alam Sangiang
  • Perjuangan panjang penghayat dari Mamasa Perjuangan panjang penghayat dari Mamasa
  • Komunitas Hindu tanpa pura Komunitas Hindu tanpa pura
  • Daun pahit menjelang tahun baru Batak Daun pahit menjelang tahun baru Batak
  • 10 wangsit dari tepi sungai Cileuleuy 10 wangsit dari tepi sungai Cileuleuy
  • Bukan agama hanya bertuhan Bukan agama hanya bertuhan
  • Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan Menyebarkan ajaran lewat penyembuhan
  • Lukman Hakim Saifuddin: secara substansial kepercayaan itu agama Lukman Hakim Saifuddin: secara substansial kepercayaan itu agama
  • Putusan MK tentang 'penghayat', apa implikasinya? Putusan MK tentang 'penghayat', apa implikasinya?
Sumber: Google News | Berita 24 Banten

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »